Jumat, 20 Februari 2026 - 11:54 WIB , Editor: ruben,
SIAK | Tribunterkini– Suasana berbeda tampak di Lapangan Hijau belakang Polres Siak, Jumat (20/2/2026) pagi. Di bawah langit cerah, jajaran personel mengikuti apel launching penggunaan tanjak dan selempang bagi PNPP dan ASN Polri dengan nuansa kental budaya Melayu.
Apel yang dimulai pukul 08.00 WIB itu dipimpin langsung Kapolres Siak, AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar, S.H., S.I.K., M.H. selaku Inspektur Upacara. Turut hadir Wakapolres Siak Kompol Akira Ceria, S.I.K., M.M., para Pejabat Utama, Kapolsek jajaran, hingga tokoh adat dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), di antaranya Timbalan Ketua MKA LAMR Siak H. Tengku Amrauddin dan Ketua LAMR Kecamatan Dayun Datuk Sahari.
Momentum ini bukan sekadar seremoni. Pemasangan tanjak oleh Kapolres Siak bersama unsur adat menjadi simbol kuat harmonisasi antara institusi kepolisian dan kearifan lokal Melayu.
*Simbol Marwah dan Amanah*
Dalam amanatnya, AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar menegaskan bahwa tanjak bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol marwah dan kehormatan dalam khazanah Melayu.
“Tanjak merepresentasikan kedewasaan sikap, ketertiban berpikir, serta komitmen menjaga adab. Sementara selempang melambangkan amanah yang dipikul di dada, dijalankan dengan keberanian, kejujuran, dan keteguhan,” tegasnya.
Ia menambahkan, penggunaan tanjak dan selempang di jajaran Polda Riau merupakan langkah cultural approach untuk membangun public trust melalui penghormatan terhadap nilai-nilai lokal masyarakat Riau.
“Kekuatan utama Polri terletak pada kepercayaan publik. Ketika kita hadir dengan menghargai identitas budaya setempat, maka kedekatan sosial akan tumbuh secara alami. Kepercayaan itu akan memperkuat legitimasi setiap tindakan kita dalam bertugas,” ujar Kapolres.
Menurutnya, tanjak dan selempang menegaskan dua dimensi tanggung jawab anggota Polri: tanggung jawab konstitusional sebagai penegak hukum dan tanggung jawab kultural sebagai bagian dari masyarakat Melayu.
*Apresiasi Tokoh Adat*
Ketua LAMR Kecamatan Dayun, Datuk Sahari, menyambut positif langkah Polres Siak tersebut. Ia menilai kebijakan ini sebagai bentuk nyata penghormatan institusi negara terhadap adat dan jati diri Melayu.
“Kami merasa bangga. Ini bukan sekadar simbol pakaian, tetapi pengakuan bahwa adat Melayu adalah ruh dalam kehidupan masyarakat Riau. Ketika aparat mengenakan tanjak, itu berarti mereka juga siap menjaga marwah dan amanah,” ungkap Datuk Sahari.
Ia berharap penggunaan atribut adat ini tidak berhenti pada simbol semata, tetapi benar-benar tercermin dalam sikap humanis, santun, dan berkeadilan dalam pelayanan kepada masyarakat.
*Harmoni Budaya dan Profesionalitas*
Prosesi apel berlangsung khidmat, mulai dari penghormatan pasukan, pemasangan tanjak dan selempang kepada perwakilan personel, hingga pembacaan doa. Tepat pukul 09.00 WIB, kegiatan selesai dalam keadaan aman dan tertib.
Kapolres menutup amanatnya dengan pernyataan resmi launching penggunaan tanjak dan selempang bagi seluruh personil di jajaran Polda Riau termasuk Polres Siak, dan ditetapkan tanggal 20 Februari adalah hari Penggunaan Tanjak dan Selendang bagi seluruh personil jajaran Polda Riau.
“Semoga penggunaan tanjak dan selempang ini tidak hanya memperindah tampilan, tetapi memperkokoh komitmen moral kita sebagai Bhayangkara sejati — profesional dalam bertugas, humanis dalam melayani, dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur Melayu,” pungkasnya.
Dengan semangat “Melindungi Tuah, Menjaga Marwah — Takkan Melayu Hilang di Bumi”, Polres Siak menunjukkan bahwa identitas budaya dan profesionalitas kepolisian bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan dua kekuatan yang saling menguatkan demi terwujudnya kamtibmas yang kondusif di Bumi Lancang Kuning. **
(Siak/ruben)